Hukum Merayakan Maulid Nabi Dan Dalilnya Menurut Syari’at Islam

hukum merayakan maulid nabi dan dalilnyaHukum Merayakan Maulid Nabi Dan Dalilnya Menurut Syari’at Islam, Ketika cahaya tauhid padam di muka bumi, maka kegelapan yang tebal hampir saja menyelimuti akal. Di sana tidak tersisa orang-orang yang bertauhid kecuali sedikit dari orang-orang yang masih mempertahankan nilai-nilai ajaran tauhid. Maka Allah SWT berkehendak dengan rahmat-Nya yang mulia untuk mengutus seorang rasul yang membawa ajaran langit untuk mengakhiri penderitaan di tengah-tengah kehidupan. Dan ketika malam mencekam, datanglah matahari para nabi. Kedatangan Nabi tersebut sebagai bukti terkabulnya doa Nabi Ibrahim as kekasih Allah SWT, dan sebagai bukti kebenaran berita gembira yang disampaikan oleh Nabi Isa as.

Allah SWT menyampaikan shalawatnya kepada Nabi itu, sebagai bentuk rahmat dan keberkahan. Para malaikat pun menyampaikan shalawat kepadanya sebagai bentuk pujian dan permintaan ampunan, sedangkan orang-orang mukmin bershalawat kepadanya sebagai bentuk penghormatan. Allah SWT berfirman:

إنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. al-Azhab: 56)

Di bulan Rabi’ul Awal yang penuh dengan rahmat dan berkah ini seluruh masyarakat muslim di dunia dengan penuh cinta menyambut maulid Nabi Muhammad SAW, yakni tanggal 12 Rabi’ul Awal. Seluruh umat Islam dunia berlomba-lomba untuk mengapresiasikan kecintaan Nabi Muhammad dengan melakukan amalan-amalan yang tidak bertentangan dengan syariat Islam seperti halnya di dusun-dusun membaca shalawat nabi yang dimulai pada malam pertama bulan Rabiu’l Awal sampai malam tanggal 12 Rabiu’ul Awal, dengan bertujuan untuk mendapatkan syafa’at di dunia akhirat kelak nanti.

Keutamaan Maulid

Banyak keutamaan-keutamaan yang dapat diperoleh bagi seorang muslim yang mau mengangungkan baginda Nabi Muhammad.

Ungkapan Kecintaan Kepada Nabi Muhammad

Peringatan maulid Nabi Muhammad adalah sebuah ungkapan kecintaan dan kegembiraan dengan beliau. Bahkan orang kafir saja mendapatkan manfaat dengan kegembiran itu.

فقد جاء في البخاري أنه يخفف عن أبي لهب كل يوم الإثنين بسبب عتقه لثويبة جاريته لما بشّرته بولادة المصطفى صلى الله عليه وسلم. وهذا الخبر رواه البخاري في الصحيح في كتاب النكاح معلقا ونقله الحافظ ابن حجر في الفتح. ورواه الإمام عبد الرزاق الصنعانيفي المصنف ج ٧ ص ٤٧٨

Dalam hadits di atas yang diriwayatkan Imam al-Bukhori dikisahkan ketika Tsuwaibah, budak perempuan Abu lahab, paman nabi, menyampaikan berita gembira tentang kelahiran sang jabang bayi yang sangat mulia, Abu Lahab pun memerdekan Tsuwaibah sebagai tanda cinta dan kasih. Dan karena kegembiraannya, kelak di hari kiamat siksa atas dirinya diringankan setiap hari Senin tiba.

Meneguhkan Kembali Kecintaan kepada Beliau

Meneguhkan kembali kecintaan kepada Nabi Muhammad. Bagi seorang mukmin, kecintaan kepada Nabi adalah sebuah keharusan, salah satu untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Kecintaan kepada nabi harus berada di atas segalanya, bahkan melebihi kecintaan kepada istri, anaknya, bahkan  kecintaan diri sendiri.

لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحبّ إليه من ولده ووالده والناس أجمعين

Artinya: “Tidak sempurna iman salah satu diantara kamu sehingga aku lebih dicintai olehnya daripada anaknya, orang tuanya dan seluruh manusia.” (HR. Bukhori Muslim).

Mendapatkan Rahmat Allah SWT

Mendapatkan rahmat Allah berupa taman surga dan dibangkitkan bersama-sama golongan orang yang jujur, orang yang mati syahid dan orang yang sholeh. Imam Sirri Saqathi Rahimahullah  berkata:

من قصد موضعا يقرأ فيه مولد النبي صلى الله عليه وسلم فقد قصد روضة منرياض الجنة لأنه ما قصد ذلك الموضع إلا لمحبة النبي صلى الله عليه وسلم : وقد قالصلى الله عليه وسلم: من أحبني كان معي في الجنة

Artinya: “Barang siapa menyengaja (pergi) ke suatu tempat yang dalamnya terdapat pembacaan maulid nabi, maka sungguh ia telah menyengaja (pergi) ke sebuah taman dari taman-taman Surga, karena ia menuju tempat tersebut melainkan kecintaannya kepada baginda rasul. Rasulullah bersabda:  barang siapa mencintaku, maka ia akan bersamaku di Surga.

Sedangkan Imam Syafi’i Rahimahullah berkata:

من جمع لمولد النبي صلى الله عليه وسلم إخوانا وهيأ طعاما وأخلى مكانا وعمل إحسانا وصار سببا لقراءته بعثه الله يوم القيامة مع الصادقين والشهداء والصالحين ، ويكون في جنات النعيم.

Artinya: “Barang siapa yang mengumpulkan saudara-saudara untuk memperingati Maulid nabi, kemudian menyediakan makanan, tempat, dan berbuat kebaikan untuk mereka serta ia menjadi sebab untuk atas dibacakannya maulid nabi, maka Allah akan membangkitkan dia bersama-sama orang yang jujur, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan dia akan dimasukkan dalam Surga na’im.”

Dalil-dalil tentang Maulid Nabi Muhammad SAW

Banyak dalil-dalil, baik Al Quran, al-Sunnah, maupun perkataan ulama, yang menunjukkan dianjurkannnya memperingati Maulid Nabi. Diantaranya dalam Al Quran surat Yunus ayat 58 dan surat al-Abiya’ ayat 107.

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَخَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ. (يونس: ٨٥

Artinya: Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (QS. Yunus: 58)

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ. الأنبياء: ١٠٧

Artinya: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS al-Anbiya: 107)

Kelahiran Nabi Muhammad digambarkan oleh Al Quran sebagai keutamaan dan rahmat yang universal dan agung, memberikan kebahagiaan dan kebaikan bagi seluruh manusia. Dalam dua ayat di atas Allah SWT dengan lahirnya beliau dan diutusnya beliau sebagai rasul adalah sebuah rahmat yang tidak terkira bagi seluruh alam semesta ini, rahmatan lil ‘alamin. Merayakan tahun kelahiran raja, negara, atau hanya orang biasa saja bermegah-megahan, kenapa kita sebagai muslim merayakan kelahiran  Nabi yang disanjung-sanjung, cukup dengan shalawat, salam, zikir, doa, dan berbuat kebaikan seperti sedekah dan membahagiakan orang ogah-ogahan?

عن أبي قتادة رضي الله عنه : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم سُئل عنصوم يوم الإثنين؟ فقال “فيه ولدت، وفيه أنزل علي” رواه الإمام مسلم في الصحيح فيكتاب الصيام

Artinya: Dari Abi Qotadah Ra, bahwa Rasulullah SAW ditanya mengenai puasa hari Senin. Maka beliau , “Di hari itu aku dilahirkan, dan di hari itu diturunkan padaku (Al Quran).” (HR. Imam Muslim dalam Shohih-nya pembahasan tentang puasa)

Hari  Senin, hari kelahiran Nabi, oleh beliau dianjurkan untuk melakukan puasa. Hal tersebut menunjukkan keutamaan hari itu, dimana cayaha kebenaran terbentang di negeri padang pasir yang jahiliyyah. Pantas jika kelahiran beliau adalah sebuah hari yang patut untuk diperingati dan diisi dengan kegiatan yang baik dan tidak bertentangan dengan syariat. Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Ibn Asyakir, Ibn Warrahawi, dan al-Dhiya’ dari shahabat Abu Sa’id al-Khurdi disebutkan:

أَتَانِيْ جِبْرِيْلُ فَقَالَ إِنَّ رَبِّيْ وَرَبَّكَ يَقُوْلُ لَكَ: تَدْرِى كَيْفَ رَفَعْتُ ذِكْرَكَ؟ قُلْتُ: اَللهُ أَعْلَمُ. قَالَ: لاَ أَذْكُرُ إِلاَّ ذُكِرْتَ مَعِيْ (ع حب) وابن عساكر وابن والرهاوي في الأربعين، والضياء في المختارة عن أبى سعيد الخدري . (فيض القدير جزء ١ ص:١٢٨

Artinya: “Jibril datang kepadaku, lalu berkata, ‘Sesungguhnya Tuhanku dan Tuhanmu berkata kepadamu: Kamu tahu, bagaimana aku mengangkat sebutanmu? Lalu aku menjawab: Allahu a’lam. Jibril berkata: Aku tidak akan menyebut, kecuali engkau disebut bersamaku.”(HR. Ibnu ‘Asyakir, Ibnu Warrohawi dalam kitab al-‘Arbain, dan al-Dhiya’ dalam kitab al-Mukhtarah dari Sahabat Abu Sa’id al-Khudri)

Bahkan Ibnu Taimiyah yang menjadi kiblat pemikiran para tokoh Islam kanan, dan digambarkan sangat menolak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW malah menganjurkan untuk melakukannya, bahkan dikatakan memiliki faedah pahala. Hal tersebut tidak dijelaskan oleh siapapun, tapi oleh beliau sendiri dalam kitab beliau Iqtidla’u al-Shirati al-Mustaqim, Mukholafatu Ashhabi al-Jahim halaman 297. Berikut stetemen beliau dalam kitab tersebut:

فَتَعْظِيْمُ الْمَوْلِدِ وَاتِّخَاذُهُ مَوْسِمًا قَدْ يَفْعَلُهُ بَعْضُ النَّاسِ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهِ أَجْرٌ عَظِيْمٌ لِحُسْنِ قَصْدِهِ وَتَعْظِيْمِهِ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَمَا قَدَّمْتُهُ لَكَ. (الشيخ ابن تيمية، اقتضاء الصراط المستقيم، مخالفة أصحاب الجحيم: ص/٢٩٧

Artinya: Mengagungkan maulid (Nabi Muhammad) dan melakukannya rutin (setiap tahun), yang kadang dilakukan oleh sebagian orang. Dan baginya dalam merayakan maulid tersebut, pahala yang agung/besar karena tujuan yang baik dan mengagungkan Rasulullah SAW dan keluarga beliau. Sebagaimana yang telah aku sampaikan padamu. (Syaikh Ibn Taimiyah, Iqtidla’u al-Shirati al-Mustaqim, Mukholafatu Ashhabi al-Jahim: 297)

فقام عند ذلك السبكي، وجميع من عنده فحصل أنس كبير في ذلك المجلس ، وعمل المولد واجتماع الناس له كذلك مستحسن. قال الإمام أبو شامة شيخ النووي: من أحسن ما إبتدع في زماننا ما يفعل كل عام في اليوم الموافق ليوم مولده صلى الله عليه وسلم من الصدقة والمعروف وإظهار الزينة والسرور فإن فيه مع الإحسان للفقراء إشعارا بمحبته صلى الله عليه وسلم وتعظيمه وشكر على ما من به علينا.  قال السخاوي وحدوث عمل المولد بعد القرون الثلاثة ، ثم لا زال المسلمون يفعلونه. وقال إبن الجوزي من خواصه أنه أمان في ذلك العام وبشري عاجلة، واول من أحدثه من الملوك المظفر. قال سبط إبن الجوزي في مرأة الزمان: حكي لي من حضر سماط المظفر في بعض المولد أنه عد فيه خمسة الاف رأس غنم شواء وعشرة ألاف دجاجة ومائة ألف زبدية وثلاثين الف صحن حلواء ، وكان يحضره أعيان العلماء والصوفية ، ويصرف عليه ثلاثمائة الف دينار.   (إسعاد الرفيق جزء 1 ص 26).

Imam Subkhi dan para pengikutnya juga menganggap baik peringatan maulid dan berkumpulnya manusia untuk merayakannya. Imam Abu Syammah Syaikh al-Nawawi mengatakan bahwa barang siapa yang melakukan kebaikan seperti hal-hal baik yang terjadi di zaman kami yang dilakukan oleh masyarakat umum di hari yang bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, diantarnya sedekah, berbuat baik, memperlihatkan hiasan dan kebahagiaan. Maka sesungguhnya dalam hari tersebut beliau menganjurkan agar umat muslim berbuat baik kepada para fakir sebagai syiar kecintaan terhadap baginda rasul, mengangungkan beliau, dan sebagai ungkapan rasa syukur.

Menurut Imam al-Sakhawi, adanya peringatan itu sejak abad ketiga hijriyah. Sejak itu, orang-orang Islam terus mengerjakannya. Bahkan, Ibnu al-Jauzi, yang biasanya dijadikan hujjah oleh para kaum ekstrimis kanan mengharamkan perayaan maulid, sama seperti Ibn Taimiyah, malah menukil sejarah maulid itu sendiri. Ibn al-Jauzi mengatakan bahwa perayaan maulid dimulai pada masa Raja al-Mudhafar. Beliau menceritakan parayaan tersebut sangat besar, megah, dan penuh dengan kebahagiaan yang tidak terkira. Disediakan 5.000 kambing, 10.000 ayam, 100.000 porsi, dan 30.000 piring manisan. Dihadiri oleh para ulama dan para sufi, yang oleh Raja al-Mudhaffar diberikan setiap orang 300.000 dinar. (Is’adur Rofiq:1:26)

Kalau saja rasul masih hidup, apa yang hendak kita banggakan di hadapan beliau? Kemaksiatan, dosa, dan tidak menjalankan ajaran beliau, apa itu yang bisa kita sampaikan? Hanya sekadar merayakan dengan sederhana namun bermakna dan penuh rahmat dan berkah, kita merasa enggan dan justru secara buta mengharamkannnya, umat Islam lain dikafirkan dan dianggap melenceng dari ajaran Nabi? Kalau Maulid Nabi dilarang, bagimana dengan perayaan Maulid Raja? Allahumma sholli wa sallim ala Sayyidina Muhammad wa ala ali wa shohbihi ajma’in.

Editor : HAFIZ

Syarat Memperoleh Ilmu Pengetahuan Menurut Imam As-Syafi’i

syarat memperoleh ilmu pengetahuanSyarat Memperoleh Ilmu Pengetahuan Menurut Imam As-Syafi’i, Ilmu merupakan suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan. Dengan ilmu kita bisa selamat di dunia maupun di akhirat. Namun, bagaimana cara kita untuk memperoleh ilmu tersebut? kita perlu memahaminya lebih baik.

Hal ini telah dijelaskan oleh Imam as-Syafi’i dengan baitnya di atas yang berarti “Wahai saudaraku, ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan enam perkara. Aku akan menyebutkan perinciannya: (yaitu) kecerdasan, ambisi, sabar, modal, bimbingan guru, dan waktu yang lama.”

1. ذكاء  (cerdas)

Kecerdasan adalah hal yang lumrah dimiliki oleh manusia. Namun dalam setiap individu memiliki kadar yang bermacam-macam sehingga dalam menuntut ilmu kadang kala ada dari mereka (penuntut ilmu) yang bisa memahami sebuah pengajaran sekali tangkap, di lain sisi kadang kala ada juga dari mereka yang memahami pengajaran dengan berkali-kali mendengarkan. Tetapi dalam memperoleh ilmu tingkat kadar kecerdasan bukanlah hal yang utama namun kecerdasan hanya diharuskan ada tanpa melihat tingkat kadarnya.

2. حرص  (Ambisi)

Berambisi dalam mencari ilmu adalah suatu yang tidak boleh ketinggalan karena mencari ilmu itu bukanlah hal mudah, banyak rintangan yang akan dihadapi seperti malas. “Seorang pelaut tidak akan lahir dari ombak yang tenang,” pun seorang penuntut ilmu akan dihadang berbadai-badai masalah dan kita harus melaluinya dengan semangat dan terus bangkit saat terjatuh. Tanpa itu semua mencari ilmu hanya sebuah perkataan tanpa adanya pelaksanaan apalagi berharap sebuah hasil.

3. اصطبار  (Sabar)

Dalam mencari ilmu kita pun juga harus bersabar, tidak bisa kita merasakan hasil dari menuntut ilmu itu secara langsung karena sejatinya menuntut ilmu ibarat seseorang yang menanam pohon berbuah kita harus dengan sabar merawatnya bertahun-tahun untuk merasakan buahnya, dan kita juga harus bersabar, tidak semua buah dari pohon tersebut terasa enak atau matang, ada yang terlalu matang atau pun dicuri hewan.

4.  بلغة   (Modal)

Modal dalam hal ini bukan hanya sebuah uang, namun modal dalam hal ini adalah sesuai dengan makna asli dari بلغ (sampai). Jadi dalam mencari ilmu kita harus mempunyai sesuatu yang bisa mengantarkan kita menujunya sebagai contoh lainnya adalah buku, alat tulis, dll. Semua hal yang mendukung proses kita mencari ilmu itulah yang harus kita punya.

5. صحبة أستاذ  (Ditemani Guru)

Tentu kita belajar butuh terhadap pengajaran guru, sehingga dalam proses mencari ilmu kita bisa mencapai dengan maksimal. Selain itu dengan diajarkan guru, ilmu kita ada sanad yang bisa dipertanggungjawabkan.

6. طول زمان  (Waktu yang Lama)

Mencari ilmu adalah suatu proses jadi kita tidak bisa dilakukan dengan waktu yang singkat. Mungkin beberapa orang bisa melakukannya dengan waktu yang relatif singkat, namun apakah jiwa kita telah siap dalam keilmuan tersebut. Lamanya kita dalam menuntut ilmu bukan diperhitungkan dari segi waktu namun dari segi kesiapan jiwa kita dalam menerima ilmu. Banyak orang pintar yang kurang bijak dalam keilmuannya.

Keenam hal tersebut adalah yang harus kita miliki saat mencari ilmu dan berharap ilmu tersebut bisa bermanfaat di dunia maupun akhirat.

Editor : Nur Rosyid

Adab Makan Dan Minum Sesuai Sunnah Rosulullah SAW Supaya Berkah

adab makan dan minum sesuai sunnahAdab Makan Dan Minum Sesuai Sunnah Rosulullah SAW Supaya Berkah, Di dalam mutiara kata sering kali dikemukakan “Pikiran yang sehat  terdapat dalam tubuh yang sehat.” Lantas bagaimana rahasia kesehatan Rasulullah yang bisa kita ambil dalam sejarahnya?

Berikut beberapa etika makan yang telah dilakukan Rasulullah:

1. Berwudhu ketika hendak makan

Dalam beberapa hadis diriwayatkan bahwa beliau berwudhu ketika hendak makan, beliau bersabda: “Barangsiapa ingin diperbanyak kebaikannya oleh Allah, maka hendaklah dia berwudlu ketika makanan sudah dihidangkan dan pada saat diangkat.” (HR. Ibnu Majah dan Al-Baihaqi)

Rasulullah bersabda:

“بَرَكَةُ الطَّعَامِ الْوُضُوْءُ قَبْلُهُ وَالْوُضُوْءُ بَعْدَهُ”  رواه الترمذي ، وأبو داود .

Berkahnya makanan adalah berwudhu baik sebelum maupun sesudahnya,” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi)

2. Membaca Basmalah sebelum Makan

Rasulullah bersabda:

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَاماً فَلْيَقُلْ: بِسْمِ اللهِ، فَإِنْ نَسِيَ فِي أَوَّلِهِ، فَلْيَقُلْ: بِسْمِ اللهِ فِي أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ

Jika salah seorang diantara kalian makan, maka ucapkanlah nama Allah (bismillaah), jika lupa pada awalnya, maka bacalah: Bismillahi fii awwalihi wa akhirihi.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

3. Membaca Hamdalah setelah makan

Selesai makan atau minum Rasulullah membaca:

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَجَعَلَنَا مُسْلِمِيْنَ

Puji syukur kepada Allah yang telah memberi makan dan memberi minum kepada kami serta menjadikan kami termasuk orang-orang Islam.” (HR. Abu Dawud)

4. Berkumur setelah Makan

Diriwayatkan bahwa setelah Rasulullah selesai makan, beliau berkumur.

Kami mengunyah dan memakannya bersama beliau. Setelah itu beliau meminta air, kemudian berkumur-kumur sehingga kami pun melakukan seperti itu bersama beliau.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

5. Makan dengan Tangan Kanan

Rasulullah bersabda:

عن عمر بن أبي سلمة رضي الله عنهما قال: … فقال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((يا غلام، سمِّ اللهَ، وكُلْ بيمينك

Dari Umar bin Abi Salamah r.a. berkata: …Rasulullah Saw. berkata kepadaku; Hai anakku ucapkanlah bismillaah. Makanlah dengan tangan kananmu...” (HR. Al-Bukhari)

6. Rasulullah Makan Menggunakan Tiga Jari (Isyarat Tidak Serakah)

Diterangkan dari Ka’ab bin Malik, ia berkata:

كان رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يأكل بثلاثة أصابع ، ويلعق يده قبل أن يمسحها

Sesungguhnya Rasulullah Saw. (ketika makan maka beliau menggunakan tiga jari, dan menjilati tangan sebelum dibasuh.” (HR. Muslim)

7. Mengambil Makanan yang Terdekat

Beliau pernah menegur Umar bin Salamah (ketika itu ia masih kecil):

عَنْ عُمَرَ بْنِ أبي سَلَمَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ كُنْتُ غُلاماً في حَجْرِ رَسُولِ اللهِ – صلى الله عليه وسلم -، وَكَانَتْ يَدِي تَطِيشُ في الصَّحْفَةِ فَقَالَ لِي رَسُولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم: ” يا غُلامُ، سَمِّ اللهَ، وَكُلْ بِيَمِينكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ،

“Dari Umar bin Abi Salamah ia berkata: Saya masih kecil dibawah asuhan Rasulullah Saw. Aku biasa menjulurkan tanganku ke tempat makanan, maka Rasulullah Saw. bersabda: Wahai anakku, sebutlah nama Allah (basmalah) dan makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah yang ada didekatmu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

8. Tidak Makan Sambil Berbaring

Diterangkan dari Abu Juhaifah (Wahab bin Abdullah), bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

لا آكل مُتَّكِئًا

“Sesungguhnya saya, saya tidak (pernah) makan sambil berbaring.” (HR. Al-Bukhari)

9. Tidak Mencaci Makanan

Abu Hurairah menjelaskan bahwa:

مَا عَابَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ

Rasulullah Saw. tidak pernah mencaci makanan. Jika beliau suka, beliu makan. Jika beliau tidak suka, beliau tidak memakannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

10. Tidak Membiarkan Makanan yang Jatuh

Rasulullah tidak pernah membiarkan makanan yang jatuh. Dari Anas ra. Rasulullah Saw. bersabda:

إِذَا وَقَعَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيَأْخُذَهَا ، فَلْيُمِطْ مَا كَانَ بِهَا مِنْ أَذَى ، وَلْيَأْكُلَهَا وَلَا يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ وَلَا يَمْسَحْ يَدَهُ بِالْمِنْدِيْلِ حَتَّى يَلْعَقَ أَصَابِعَهُ فَإِنَّهُ لَا يَدْرِيْ فِي أَيِّ طَعَامِهِ الْبَرَكَةُ

Jika suapan salah seorang diantara kalian jatuh, maka ambillah (jangan dibiarkan) dan buang yang kotor, setelah itu makan kembali, jangan biarkan makanan untuk syetan. Jangan bersihkan tangan dengan alat pembersih sebelum menjilat jari-jari tangannya. Sebab tiada yang mengetahui pada makanan yang mana yang terdapat keberkahan.” (HR. Muslim)

11. Tidak Berlebih-lebihan dalam Makan

Rasulullah bersabda:

ما ملأ آدَمِيُّ وِعَاءً شراً من بطنه بحسب ابن ادم أكلات يقمن صلبه فإن كان لا محالة فثلث لطعامه وثلث لشرابه وثلث لنفسه

Tiada suatu tempat (wadah) yang jelek jika dinuhi oleh manusia selain perutnya sendiri. Cukuplah baginya beberapa suapan yang sekiranya bisa menguatkan tulang belulangnya. Jika masih kurang, maka sepertiga (perutnya) untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad)

12. Minum dengan Tiga Tegukan dan Membaca Basmalah 

Dalam hal ini Rasulullah Saw. bersabda:

لا تشربوا واحدا كشرب البعير ولكن اشربوا مثنى وثلاث وسموا إذا أنتم شربتم واحمدوا إذا أنتم رفعتم

Janganlah kalian minum seperti minumnya hewan. Tetapi minumlah kalian dengan dua atau tiga kali, dan jika kalian minum sebutlah nama Allah (membaca basmalah), kemudian pujilah Dia (membaca hamdalah), ketika kalian mengangkatnya (selesai minum).”(HR. At-Tirmidzi)

13. Tidak Bernafas dalam Bejana (Tempat Minum)

Dari Anas ra. ia berkata:

عن أبي قتادة رضي الله عنه أَنَّ النّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ : نَهَى أَن يُتَنَفَّسَ فِي الإِنَاءِ

Dari Abi Qatadah ra, bahwasanya Nabi Saw. melarang (kita) bernafas di dalam bejana atau meniup di dalamnya.” (HR. Muslim)

14. Tidak Makan dan Minum dengan Berdiri.

Rasulullah Saw.  melarang makan dan minum dengan berdiri,

عن قتادة عن أنس عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه نهى أن يشرب الرجل قائما قال قتادة فقلنا فالأكل فقال ذاك أشر أو أخبث

“Dari Qotadah dari Anas dari Nabi Saw. Bahwa sesungguhnya Nabi Saw. melarang orang minum sambil berdiri. Lalu Qotadah bertanya (kepada Anas) : Kalau makan bagaimama? Ia pun menjawab : Hal itu (makan dan minum sambil berdiri) lebih buruk dan jelek.” (HR. Muslim, At-Tirmidzi, Abu Dawud dan Ahmad)

Semoga kita juga bisa mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tidak hanya kenyang yang kita dapat melainkan keberkahan dalam makanan yang telah kita makan sehingga kita mendapatkan keberkahan pula dalam kehidupan. Aamiin.. 

Editor : Silmi Kaffah

Tata Cara Dan Adab Berdoa Agar Dikabulkan Allah SWT

adab berdoa agar dikabulkanTata Cara Dan Adab Berdoa Agar Dikabulkan Allah SWT, Dalam perspektif Islam, doa merupakan perintah agama. Punya kedudukan sangat penting dan memiliki peran sangat besar bagi kehidupan tiap individu. Karena doa merupakan pintu besar diantara pintu-pintu ibadah lainnya. Sehingga dari situlah akan terbuka jalan bagi seluruh persoalan. Tidak terbatas mengenai persoalan ibadah tetapi juga persoalan duniawi.

Rasulullah menyebut dalam suatu hadis, “Doa adalah otaknya ibadah.” HR. Tirmidzi. Disebut sebagai otak ibadah karena doa adalah bentuk penghambaan kepada Allah Swt. Suatu ibadah yang membuktikan betapa manusia itu lemah dan sangat tergantung pada kekuasaan-Nya. Sehingga dengan berdoa, nyatalah bahwa Allah tempat memohon dan tempat mengadukan semua pesoalan.

Bagi orang mukmin, doa merupakan senjata yang sangat ampuh untuk menyelesaikan semua permasalahan. Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah Saw., “Doa adalah senjata seorang mukmin, tiang agama, dan cahaya langit dan bumi.” HR. Hakim.

Doa itu menjadi senjata ampuh bagi orang mukmin, tetapi terkadang sebagian orang kurang yakin dengan kekuatan doa yang ia panjatkan. Hal tersebut seperti sebuah senjata, tergantung perlakuan pemakainya. Ibarat sebuah pedang yang sangat tajam, tidak berarti apa-apa bila tidak diayunkan. Juga tidak mengenai sasaranl, jika ada sesuatu yang menghalangi. Demikian pula doa, apabila dilakukan dengan khusyuk dan tidak ada penghalang dalam dirinya, niscaya akan menjadi senjata ampuh bagi setiap mukmin.

Ibnu Qayim rahimahullah berkata, “Doa adalah sebab terkuat bagi seseorang agar selamat dari hal-hal yang tidak ia sukai dan sebab utama meraih hal yang diinginkan. Tetapi pengaruh doa pada setiap orang berbeda-beda. Ada doanya berpengaruh lemah karena dirinya sendiri. Bisa jadi doa itu tidak disukai Allah karena melampaui batas. Atau karena hati seseorang tersebut lemah dan tidak menghadirkan Allah swt. ketika berdoa. Atau juga karena adanya penghalang dalam dirinya seperti makan makanan haram, dosa dalam hatinya, hati yang selalu lalai, nafsu syahwat yang menggejolak dan hati yang penuh kesia-siaan.” (Al Jawaabil Kaafi, 21).

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” QS. al-Baqarah 186

Berdasarkan ayat diatas jelaslah bahwa setiap doa seorang hamba (sangat mungkin) dikabulkan oleh Allah. Sebab Allah itu sangat dekat dengan hamba-Nya, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Allah adalah Maha Raja dari segala Raja. Allah Maha Kaya dari segala yang Kaya, Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Maha Tinggi, dan Maha Adil. Allah tidak membedakan dalam memenuhi keinginan hamba-Nya.

Jika demikian, mengapa masih ada doa yang tidak terkabulkan? Persoalannya terletak pada orang yang berdoa. Terdapat tiga hal mendasar yang menjadi penyebab tidak terkabulnya doa, yaitu iman, pengetahuan tentang tata cara berdoa, dan perbuatan yang baik.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad, Hakim, Baihaqi, Ibn Abi Syaibah dan Abu Ya’la. Rasullah menjelaskan bahwa setiap doa pasti dikabulkan kecuali; pertama, doa itu tidak mengandung unsur dosa. Misalnya melakukan ritual-ritual tertentu dengan alasan supaya doa dikabulkan. Kedua, tidak ada pemutusan silaturrahim. Misalnya suka menyakiti hati tetangga. Bagaimana mungkin doa minta keselamatan dikabulkan kalau suka mencelakai orang lain. Karena kebaikan kita kepada orang lain adalah doa yang terucap.

Menurut Said bin Ali bin Wahf al-Qathani, ada beberapa ketentuan agar doa dikabulkan, yaitu: Pertama, harus ikhlas, yaitu membersihkan amal dan doa dari riya’ dan tidak sombong. Hanya mengharap ridha Allah, dan sanggup menerima segala keputusan Allah serta selalu berdoa ketika senang maupun susah.

Kedua, mengikuti tata cara doa yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Ketiga, yakin bahwa doa yang dipanjatkan diterima oleh Allah. Keempat, berdoa dengan khusyuk dan penuh harapan. Kelima, ada keinginan yang kuat dan sungguh-sungguh dalam berdoa.